Biaya Logistik Masih Tinggi, KA Logistik diminta untuk Menurunkan Tarif

Biaya Logistik Masih Tinggi, KA Logistik diminta untuk Menurunkan Tarif

Sejauh ini, biaya logistik di Tanah Air terhitung sekitar 24% dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp1.820 triliun. Hal ini yang menyebabkan produk Indonesia relatif kurang kompetitif. Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (Maska) menilai optimalisasi kereta api (KA) logistik diharapkan mampu menurunkan tingginya biaya logistik tersebut. Ketua Umum Maska Hemanto Dwiatmoko menjelaskan dari jumlah itu, sektor transportasi mengambil porsi yang terbesar yakni 60% dari biaya logistik. “Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah mengoptimalkan pemanfaatan KA logistik dalam transportasi barang,” kata Hermanto dikutip Antara, Selasa (3/9/2019).

Hermanto mengatakan, seharusnya peran KAlogistik bisa lebih besar dalam angkutan logistik. Pasalnya, pembangunan infrastruktur perkeretaapian di Tanah Air relatif sudah banyak dilakukan. “Di jalur Pantura Jawa, jalur kereta api sudah dibangun ganda, sehingga kapasitas perjalanan kereta bisa ditambah. Namun, pembangunan infrastruktur itu tidak cukup karena masih belum terhubung dengan pelabuhan dan sentra-sentra produksi,” sebutnya.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Zulmafendi mengatakan peran kereta api dalam angkutan barang kini masih relatif kecil. Angkanya tak lebih dari 1% dari total pengangkutan. Sejauh ini, dia menuturkan sebesar 90% pengangkutan itu masih dilakukan menggunakan angkutan truk. Namun pertumbuhan volume barang yang diangkut tiap tahun terus meningkat. Pada 2016, volume barang hanya 32,49 juta ton itu meningkat menjadi 40 juta ton pada 2017. Jumlahnya semakin meningkat pada 2018 menjadi 45,2 juta ton.

“Ada banyak kelebihan yang didapat dengan pengangkutan kereta api. Misalnya kepastian waktu, kapasitas angkut yang besar, efisien, emisi gas buang yang rendah, dan keamanan,” ujar Zulmafendi. Namun, dia mengingatkan pengangkutan dengan kereta barang juga mempunyai kekurangan. Seperti belum adanya layanan dari pintu ke pintu sehingga biaya penanganan lebih mahal dibanding armada truk.

Untuk mengatasi kendala tersebut Direktorat Jenderal Perkeretapian menyusun rencana strategis pembangunan perkeretaapian. Seperti membangun jalur ganda di Jawa dan Sumatera, reaktivasi jalur kereta, integrasi jalur kereta dengan pelabuhan, membangun jalur baru kereta yang menghubungkan sentra-sentra produksi seperti industri, pertambangan, perkebunan, pertanian dan lainnya dengan pelabuhan.

Sedangkan, Direktur Utama PT Kereta Api Logistik Hendy Helmi mengatakan pertumbuhan volume angkutan barang yang diangkutnya mengalami pertumbuhan rata-rata 18,8% setiap tahun. Angka pertumbuhan itu diakuinya akan terus terjaga hingga lima tahun ke depan.

“Pertumbuhan yang sangat positif itu tetap terjadi walaupun masih banyak kendala belum teratasi. Misalnya, saat ini sentra-sentra industri tersebar di mana-mana dan jauh dari jalur kereta api, sehingga menimbulkan inefisiensi dalam handling,” ucap Hendy. Selain itu, dominasi barang saat ini masih satu arah yakni Jakarta ke Surabaya hingga kapasitas penuh. Sedangkan, arah sebaliknya hanya terisi 20-40% dari kapasitas armada.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked

15 − 6 =